Tulisan ini mungkin
akan ’menyalahi’ kebiasaan saya dalam menulis dalam blog . Selama ini saya
menggunakan puisi atau prosa sebagai pengungkap hati, dengan penuh pengandaian
dan permisalan. Namun mungkin ada saatnya pula, saya pikir, unutk menulis
dengan lugas bagaimana kejiwaan saya saat ini.
Benyak orang
menjadikan menulis sebagai ajang terapi akan suatu beban jiwa, dan tidak
sedikit terapis yang menganjurkan solusi ini. Sebut salah satu tokoh Indonesia,
Presiden ke -4 Republik Indonesia, Bapak Dr.Ing. B.J. Habibie yang menulis
tentang dirinya dan Ibu Ainun, yang kemudian dibukukan unutk dijual secara
komersil. Banyak pula contoh lain, dimana menulis menjadi suatu pelarian, suatu
penemuan, sekaligus refleksi dari kehidupan sehari-hari. Begitu pula yang akan
saya tulis, saat ini dan mungkin kedepannya.
Banyak yang ditakuti
oleh makhluk hidup, karena pada dasarnya makhluk hidup selalu memiliki celah
hingga ia dapat merasakan ketakutan. Hewan, tetumbuhan, menyesuaikan diri
dengan hal yang ditakutinya, sang predatro misalnya, lalu mengubah morfologi,
fisiologi dirinya dengan musuh tersebut. manusia pun begitu, ia memiliki
perasaan yang dinamakan sebagai rasa takut. Rasa takut ini sering membayangi,
melumpuhkan atau bahkan menjadi pelecut jiwa sebagai respon dari yang
ditakutinya. Allah pun menyruh manusia sekalian hanya unutk takut pada-Nya,
dimana perasaan takut tersebut menjadi daya juang bagi seorang manusia untuk
mendekat padaNya. Hal ini pernah disampaikan oeh bapak Basar Nastri dalam suatu
perbincangannnya pada acara sekolah saya tempo lalu.
Saya sendiri masih
sulit unutk menerapkan hal ini. Karena ada satu hal yang amat saya takuti, saya
hindari,saya berdoa supaya hal tersebut menjauh dari saya sejauh-jauhnya. Kecanduan.
Keinginan. Hawa nafsu. Hal-hal yang akhirnya membutakan saya akan jalan yang
sukar lagi sulit. Merintangi saya unutk dapat mencintai tuhan saya secara
seutuhnya. Mengendalikannya begitu sulit, sampai-sampai saya kadang putus asa
dan membatin : apakah memang Allah ingin saya menjadi seorang pendosa ?
Hal ini saya coba
buang jauh-jauh, sebelum mendekat lalu melekat dan menyergap pikiran dan diri
saya hingga gelap gulita sudah jalan yang saya tempuh di dunia ini. Padahal saya,
anda yakin bahwa perjalan kita semua di dunia mempunyai akhir.
Saya berharap, saya
dapat melihat tulisan ini lagi lain hari, lain waktu. Lalu memeprtanyakan
kepada diri saya sendiri sudahkan saya berubah? Sudahkah saya berusaha? Apakah saya
dapat memegang perkataan saya?
Muhasabah menurut saya
penting dan mungkin dengan media ini dapat saya lakukan lebih mendalam.
Semoga Allah memaafkan
kesalahan-kesalahan kita.
Rasaian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar