Kamis, 25 Juni 2015

Jumat , 26 Juni 2016



Tulisan ini mungkin akan ’menyalahi’ kebiasaan saya dalam menulis dalam blog . Selama ini saya menggunakan puisi atau prosa sebagai pengungkap hati, dengan penuh pengandaian dan permisalan. Namun mungkin ada saatnya pula, saya pikir, unutk menulis dengan lugas bagaimana kejiwaan saya saat ini.

Benyak orang menjadikan menulis sebagai ajang terapi akan suatu beban jiwa, dan tidak sedikit terapis yang menganjurkan solusi ini. Sebut salah satu tokoh Indonesia, Presiden ke -4 Republik Indonesia, Bapak Dr.Ing. B.J. Habibie yang menulis tentang dirinya dan Ibu Ainun, yang kemudian dibukukan unutk dijual secara komersil. Banyak pula contoh lain, dimana menulis menjadi suatu pelarian, suatu penemuan, sekaligus refleksi dari kehidupan sehari-hari. Begitu pula yang akan saya tulis, saat ini dan mungkin kedepannya.

Banyak yang ditakuti oleh makhluk hidup, karena pada dasarnya makhluk hidup selalu memiliki celah hingga ia dapat merasakan ketakutan. Hewan, tetumbuhan, menyesuaikan diri dengan hal yang ditakutinya, sang predatro misalnya, lalu mengubah morfologi, fisiologi dirinya dengan musuh tersebut. manusia pun begitu, ia memiliki perasaan yang dinamakan sebagai rasa takut. Rasa takut ini sering membayangi, melumpuhkan atau bahkan menjadi pelecut jiwa sebagai respon dari yang ditakutinya. Allah pun menyruh manusia sekalian hanya unutk takut pada-Nya, dimana perasaan takut tersebut menjadi daya juang bagi seorang manusia untuk mendekat padaNya. Hal ini pernah disampaikan oeh bapak Basar Nastri dalam suatu perbincangannnya pada acara sekolah saya tempo lalu.

Saya sendiri masih sulit unutk menerapkan hal ini. Karena ada satu hal yang amat saya takuti, saya hindari,saya berdoa supaya hal tersebut menjauh dari saya sejauh-jauhnya. Kecanduan. Keinginan. Hawa nafsu. Hal-hal yang akhirnya membutakan saya akan jalan yang sukar lagi sulit. Merintangi saya unutk dapat mencintai tuhan saya secara seutuhnya. Mengendalikannya begitu sulit, sampai-sampai saya kadang putus asa dan membatin : apakah memang Allah ingin saya menjadi seorang pendosa ?

Hal ini saya coba buang jauh-jauh, sebelum mendekat lalu melekat dan menyergap pikiran dan diri saya hingga gelap gulita sudah jalan yang saya tempuh di dunia ini. Padahal saya, anda yakin bahwa perjalan kita semua di dunia mempunyai akhir.

Saya berharap, saya dapat melihat tulisan ini lagi lain hari, lain waktu. Lalu memeprtanyakan kepada diri saya sendiri sudahkan saya berubah? Sudahkah saya berusaha? Apakah saya dapat memegang perkataan saya?

Muhasabah menurut saya penting dan mungkin dengan media ini dapat saya lakukan lebih mendalam.

Semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita.


Rasaian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar