Tidak terlalu banyak
yang terjadi hari ini. Yang membedakan mungkin adalah perasaan saya
terhadapnya. Perempuan kecil dengan senyum yang (dahulu) amat manis. Banyak yang
berubah, entah ini yang dinamakan orang sebagai rasa suka pada masa-masa muda. Namun
bagi saya ini hanyalah sebagai rasa simpati saya terhadap masalah yang tengah
dihadapinya. Cahaya itu memang makin redup, tapi kepercayaan adalah
satu-satunya yang bisa saya pegang saat ini. Sudah cukup topeng yang saya
pakai, sudah saatnya saya lepas satu per satu, selapis demi selapis. Supaya ketika
menatap cermin, yang saya lihat adalah diri saya seutuhnya tanpa lagi rasa
malu. Juga untuk mengetahui, seperti apa saya sebenarnya.
Sejujurnya, saya
setuju bahwa watak ditentukan oleh perilaku diri sendiri. Dalam artian watak
adalah produk dari kebiasaan, produk dari kegiatan, produk dari semangat dan
tekad. Jalan memang masih panjang, likunya makin tajam, kerikilnya makin cadas.
Makin bertambah umur saya mencoba unutk memahami ulang hal-hal yang sudah saya
buat batasan ataupun patokan-patokannya, yang cukup banyak menghalangi saya
dalam proses pemahaman ulang tersebut.
Karena itu,
pembentukan watak masih saya terus lakukan, sebagaimana besi ditempa untuk
menjadi pedang yang indah, memiliki nilai dan makna, juga warna tersendiri yang
berbeda dengan yang lain, berguna bila ditebas dan memberikan kenikmatan bagi
yang melihatnya kala dipajang. Memebrikan arti bagi deb-debu yang menempel
padanya kala digudangkan, juga kilau yang dihasilkannya kala memancarkan sinar
matahari dalam kibasan. Dan sungguh, jalan pintas terbesar adalaj dengan
menghadapi permasalahan dengan kepala tegak, menguasai ketakutan yang selama
ini membayangi.
Memang benar, saya
masih hijau, masih berlumut dengan masa lalu. Tetapi adakah salah untuk
berharap bahwa saya dapat berubah sebagaimana para sahabat kala menemukan
Cahaya Islam, lalu menerangi dada dan hari-hari meraka, menjadi penunutuk hidup
yang utama, tidak diduakan. Maka mungkin itulah sebenar-benarnya hidup. Pengharapan
ini tidak akan pernah menjadi angan-angan kosong, itu janji saya. Sebagai seorang
manusia. Sebagai seorang muslim.
“ Janganlah
menyerah dari rahmat Allah ….”