Selasa, 30 Juni 2015

30 Juni 2015





Tidak terlalu banyak yang terjadi hari ini. Yang membedakan mungkin adalah perasaan saya terhadapnya. Perempuan kecil dengan senyum yang (dahulu) amat manis. Banyak yang berubah, entah ini yang dinamakan orang sebagai rasa suka pada masa-masa muda. Namun bagi saya ini hanyalah sebagai rasa simpati saya terhadap masalah yang tengah dihadapinya. Cahaya itu memang makin redup, tapi kepercayaan adalah satu-satunya yang bisa saya pegang saat ini. Sudah cukup topeng yang saya pakai, sudah saatnya saya lepas satu per satu, selapis demi selapis. Supaya ketika menatap cermin, yang saya lihat adalah diri saya seutuhnya tanpa lagi rasa malu. Juga untuk mengetahui, seperti apa saya sebenarnya.

Sejujurnya, saya setuju bahwa watak ditentukan oleh perilaku diri sendiri. Dalam artian watak adalah produk dari kebiasaan, produk dari kegiatan, produk dari semangat dan tekad. Jalan memang masih panjang, likunya makin tajam, kerikilnya makin cadas. Makin bertambah umur saya mencoba unutk memahami ulang hal-hal yang sudah saya buat batasan ataupun patokan-patokannya, yang cukup banyak menghalangi saya dalam proses pemahaman ulang tersebut.

Karena itu, pembentukan watak masih saya terus lakukan, sebagaimana besi ditempa untuk menjadi pedang yang indah, memiliki nilai dan makna, juga warna tersendiri yang berbeda dengan yang lain, berguna bila ditebas dan memberikan kenikmatan bagi yang melihatnya kala dipajang. Memebrikan arti bagi deb-debu yang menempel padanya kala digudangkan, juga kilau yang dihasilkannya kala memancarkan sinar matahari dalam kibasan. Dan sungguh, jalan pintas terbesar adalaj dengan menghadapi permasalahan dengan kepala tegak, menguasai ketakutan yang selama ini membayangi.

Memang benar, saya masih hijau, masih berlumut dengan masa lalu. Tetapi adakah salah untuk berharap bahwa saya dapat berubah sebagaimana para sahabat kala menemukan Cahaya Islam, lalu menerangi dada dan hari-hari meraka, menjadi penunutuk hidup yang utama, tidak diduakan. Maka mungkin itulah sebenar-benarnya hidup. Pengharapan ini tidak akan pernah menjadi angan-angan kosong, itu janji saya. Sebagai seorang manusia. Sebagai seorang muslim.

Janganlah menyerah dari rahmat Allah ….”

Senin, 29 Juni 2015

29 Juni 2015


Matahari sudah mulai mendekati garis khayal. Langit sudah mulai menjingga, sedang saya masih terus saya terlena dengan keadaan sekarang ini. Amat benar perkataan Nabi SAW, bahwasannya waktu luang dan sehat adalah nikmat yang sering dilalaikan manusia. Sedang dalam hati sendiri masih dikejar oleh ketakutan yang sebelumnya sudah saya bicarakan. Semua  terus berjalan, juga maut mengintai dari kisi-kisi waktu terus menunggu.

Saya sendiri masih pada pengharapan yang sama, hidup adalah suatu pilihan yang harus dipegang. Apalah arti menjadi pemeluk agama ini bila tidak didasari keimanan yang teguh ?Walaupun hari ini saya masih berlumut pada keadaan hari-hari sebelumnya. Masih pada pengharapan, yang lama-lama berasa seperti angan-angan kosong.

Kebingungan masih melanda, sedang ketakutan terus mendera. Namun di lubuk hati, saya masih percaya Cahaya tersebut tak akan mati. 

Kamis, 25 Juni 2015

Jumat , 26 Juni 2016



Tulisan ini mungkin akan ’menyalahi’ kebiasaan saya dalam menulis dalam blog . Selama ini saya menggunakan puisi atau prosa sebagai pengungkap hati, dengan penuh pengandaian dan permisalan. Namun mungkin ada saatnya pula, saya pikir, unutk menulis dengan lugas bagaimana kejiwaan saya saat ini.

Benyak orang menjadikan menulis sebagai ajang terapi akan suatu beban jiwa, dan tidak sedikit terapis yang menganjurkan solusi ini. Sebut salah satu tokoh Indonesia, Presiden ke -4 Republik Indonesia, Bapak Dr.Ing. B.J. Habibie yang menulis tentang dirinya dan Ibu Ainun, yang kemudian dibukukan unutk dijual secara komersil. Banyak pula contoh lain, dimana menulis menjadi suatu pelarian, suatu penemuan, sekaligus refleksi dari kehidupan sehari-hari. Begitu pula yang akan saya tulis, saat ini dan mungkin kedepannya.

Banyak yang ditakuti oleh makhluk hidup, karena pada dasarnya makhluk hidup selalu memiliki celah hingga ia dapat merasakan ketakutan. Hewan, tetumbuhan, menyesuaikan diri dengan hal yang ditakutinya, sang predatro misalnya, lalu mengubah morfologi, fisiologi dirinya dengan musuh tersebut. manusia pun begitu, ia memiliki perasaan yang dinamakan sebagai rasa takut. Rasa takut ini sering membayangi, melumpuhkan atau bahkan menjadi pelecut jiwa sebagai respon dari yang ditakutinya. Allah pun menyruh manusia sekalian hanya unutk takut pada-Nya, dimana perasaan takut tersebut menjadi daya juang bagi seorang manusia untuk mendekat padaNya. Hal ini pernah disampaikan oeh bapak Basar Nastri dalam suatu perbincangannnya pada acara sekolah saya tempo lalu.

Saya sendiri masih sulit unutk menerapkan hal ini. Karena ada satu hal yang amat saya takuti, saya hindari,saya berdoa supaya hal tersebut menjauh dari saya sejauh-jauhnya. Kecanduan. Keinginan. Hawa nafsu. Hal-hal yang akhirnya membutakan saya akan jalan yang sukar lagi sulit. Merintangi saya unutk dapat mencintai tuhan saya secara seutuhnya. Mengendalikannya begitu sulit, sampai-sampai saya kadang putus asa dan membatin : apakah memang Allah ingin saya menjadi seorang pendosa ?

Hal ini saya coba buang jauh-jauh, sebelum mendekat lalu melekat dan menyergap pikiran dan diri saya hingga gelap gulita sudah jalan yang saya tempuh di dunia ini. Padahal saya, anda yakin bahwa perjalan kita semua di dunia mempunyai akhir.

Saya berharap, saya dapat melihat tulisan ini lagi lain hari, lain waktu. Lalu memeprtanyakan kepada diri saya sendiri sudahkan saya berubah? Sudahkah saya berusaha? Apakah saya dapat memegang perkataan saya?

Muhasabah menurut saya penting dan mungkin dengan media ini dapat saya lakukan lebih mendalam.

Semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita.


Rasaian